Di tengah kemudahan akses informasi keuangan, banyak Gen Z justru memilih untuk “hidup untuk hari ini” menghabiskan uang untuk traveling, konser, atau belanja impulsif sebagai bentuk pelarian dari stres. Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending.
Menurut survei Credit Karma, hampir separuh Gen Z merasa menabung itu sia-sia. Akibatnya, keterampilan mengatur keuangan pun jadi minim. Sebagian menyalahkan sistem pendidikan yang tak membekali mereka dengan pengetahuan finansial. Padahal, saat ini semua informasi dari budgeting sampai investasi bisa diakses hanya lewat smartphone. Finfluencer, podcast, bahkan video singkat di TikTok pun siap membantu.
Namun, kenyataannya hanya 33% Gen Z yang benar-benar memanfaatkan media sosial untuk belajar finansial. Banyak yang justru terjebak dalam tren viral tanpa memahami konsep dasarnya. Overload informasi apalagi dengan konten AI yang makin sulit disaring juga bikin bingung menentukan mana yang benar.
Karena itulah, penting untuk mulai belajar dari dasar, menyusun anggaran, memahami jenis utang, hingga mulai menabung. Meski sekolah belum maksimal mengajarkan hal ini, pembelajaran bisa dimulai dari rumah. Orang tua punya peran besar dalam membentuk kebiasaan finansial anak sejak dini.
Sebagai Gen Z, sudah saatnya kita memanfaatkan akses informasi yang ada untuk membangun masa depan finansial yang lebih stabil. Jangan sampai kemudahan teknologi hanya jadi tempat cari hiburan, tapi lupa untuk belajar mengatur uang.