Pada April 2025, rupiah terperosok ke rekor terendah di Rp17.261 per dolar AS akibat gejolak ekonomi global dan kebijakan dalam negeri. Efeknya langsung terasa: biaya impor naik, bisnis terguncang, dan IHSG sempat turun tajam hingga 9,2%, membuat perdagangan saham dihentikan sementara.

Namun di tengah ketidakpastian, masyarakat mulai melirik emas sebagai pelindung aset. Penjualan emas melonjak hingga tiga kali lipat, bahkan tabungan emas meningkat drastis hanya dalam satu hari.

Lalu, bagaimana sebaiknya bisnis bertahan?

  1. Perluas Pasar Ekspor
    Jangan hanya fokus ke satu negara. UMKM bisa eksplor pasar baru yang lebih stabil seperti Asia Tenggara.

  2. Optimalkan Operasional
    Gunakan bahan lokal, kurangi limbah produksi, dan efisienkan pengiriman.

  3. Atur Risiko Valas
    Coba manfaatkan layanan hedging dari bank atau fintech agar arus kas lebih terkendali.

  4. Amankan Investasi
    Sisihkan sebagian keuntungan ke aset yang lebih stabil seperti emas atau aset digital.

Sementara itu, Bank Indonesia turun tangan dengan intervensi agresif di pasar uang dan obligasi, mengalokasikan hingga USD 3 miliar untuk menstabilkan rupiah. Pemerintah juga memilih jalur diplomatik dengan AS untuk menekan tarif dan dorong ekspor. Di tengah tekanan global, bisnis yang gesit dan adaptif bisa tetap tumbuh dan tangguh.