8 Cara Cerdas Lindungi Data Pribadi Saat Gunakan Zoom

Seiring dengan kebijakan Work from Home atau Work from Anywhere, banyak orang kini bergantung pada teknologi, terutama aplikasi Zoom, untuk bekerja dan belajar. Namun, muncul kekhawatiran terkait potensi pencurian data pengguna melalui aplikasi ini, yang bisa dimanfaatkan oleh hacker untuk mengakses perangkat melalui pemindaian wajah. Berikut beberapa cara untuk menjaga keamanan saat menggunakan Zoom Meeting: Gunakan Password dan Hindari Meeting ID Personal Jangan gunakan ID pertemuan personal karena hacker dapat menebaknya secara acak. Pastikan ID pertemuan yang dibuat unik, dan pilih opsi “Generate Automatically” untuk keamanan lebih. Matikan Fitur Transfer File Agar terhindar dari malware, matikan fitur transfer file dalam pengaturan. Pastikan peserta setuju sebelum membagikan file. Nonaktifkan Auto Save Chat Matikan fitur auto-save chat untuk mencegah jejak percakapan yang dapat disalahgunakan. Atur Preferensi Cookie Pengaturan cookie sering diabaikan, padahal ini penting untuk melindungi jejak digital yang terekam saat menggunakan Zoom. Aktifkan Fitur Lock Out Fitur ini mengunci pertemuan, mencegah orang yang tidak diundang masuk setelah seseorang keluar. Ganti Background Virtual Ganti background Zoom untuk melindungi privasi lokasi rumahmu dari orang yang tidak diinginkan. Gunakan Versi Terbaru Pastikan aplikasi Zoom yang digunakan adalah versi terbaru untuk mendapatkan pembaruan keamanan. Jangan Sembarangan Bagikan Tautan Hindari membagikan tautan rapat secara sembarangan. Berikan hanya kepada peserta yang memang terlibat. Dengan mengikuti tips-tips ini, kamu dapat menggunakan Zoom Meeting dengan lebih aman dan mengurangi risiko pencurian data.
Dampang Serangan Rasomeware dan Penangannya/Mitigasi

Ransomware adalah malware berbahaya yang melakukan enkripsi data pengguna dan menuntut pembayaran tebusan untuk mendekripsi data dalam jangka waktu tertentu. Brain Cipher Ransomware adalah jenis serangan yang relatif baru dan menargetkan organisasi di seluruh dunia. Dalam kasus Pusat Data Nasional Indonesia, peretas menuntut tebusan sekitar USD 8 juta atau sekitar Rp 131 miliar untuk memulihkan data. Serangan ini menyebabkan lumpuhnya ratusan layanan publik, terancamnya reputasi pemerintahan hingga hilangnya data pribadi masyarakat. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie Setiadi mengungkap menurutnya pelaku peretasan tidak melibatkan negara tertentu melainkan perorangan dengan motif ekonomi. 13 Juli Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Hadi Tjahjanto, menyampaikan bahwa mereka berhasil memulihkan 86 layanan. hingga saat ini belum ada rencana strategis yang dilakukan untuk menguatkan sistem pertahanan siber di masa yang akan datang. Lalu bagaimana dengan keamanan data diri milik kita? dan bagaimana penangannya? Terdapat pelajaran penting yang bisa diambil dari insiden serangan tersebut, kurangnya kewaspadaan terhadap ancaman siber, beberapa tahapan di bawah ini merupakan tahapan / langkah yang bisa dilakukan untuk mengamankan data dan layanan dari ancamanan siber ransomware, diantaranya; Mewajibkan pencadangan data Urgensi Undang-Undang Keamanan Siber Meningkatkan Kesadaran Keamanan Melakukan pencadangan Data yang terjadwal Hati-hati saat Mengunduh Aplikasi Menggunakan Kata Sandi yang Kuat Melakukan Pemindaian Berkala Kolaborasi dengan Ahli Keamanan Siber Menerapkan Protokol Pemulihan Insiden Pengawasan dan Analisis Berkelanjutan Dengan langkah / tahapan pencegahan yang tepat dengan peningkatan kesadaran akan ancaman siber, Indonesia dapat memperkuat keamanan data dan mencegah serangan ransomware ataupun malware lainnya. Dengan adanya insiden tersebut, Pusat Data Nasional, sebagai Pusat informasi dan data, diharapkan untuk dapat berkomitmen untuk terus mengembangkan kebijakan, diri dan membuat atau menyusun strategi yang matang dan proaktif untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.