Mahasiswa Informatika UMM Borong Medali di Ajang PORPROV Jatim 2025!

Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengukir prestasi gemilang dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jawa Timur 2025! Zahra Rizki Faradiba, mahasiswi Informatika angkatan 2022, berhasil menyabet medali emas untuk nomor lomba R6 Putri Down River Race dan medali perak pada nomor R4 Putri Head to Head di cabang olahraga Arung Jeram. Dengan keberanian, ketangguhan fisik, dan kerja sama tim yang luar biasa, Zahra membuktikan bahwa mahasiswa Informatika tidak hanya unggul di dunia teknologi, tetapi juga piawai menaklukkan tantangan alam. Tak hanya itu, dari cabang olahraga Bola Tangan, Maulana Ziddan Abdillah mahasiswa Informatika angkatan 22 turut mengharumkan nama UMM dengan perolehan medali perak, bersama rekannya dari Prodi Akuakultur. Aksi tangguh mereka di lapangan menunjukkan bahwa semangat juang dan kekompakan adalah nilai yang terus dijunjung tinggi oleh mahasiswa Informatika UMM. Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Informatika UMM tak hanya jago ngoding, tapi juga luar biasa di dunia olahraga. Selamat atas capaian membanggakan ini, teruslah menginspirasi dan membawa semangat Informatika UMM ke puncak prestasi!

Prospek Karier Teknik Informatika di Era Revolusi Industri 5.0

Revolusi Industri 5.0 menghadirkan perubahan besar dalam dunia kerja dan teknologi. Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang fokus pada otomatisasi dan konektivitas, era 5.0 menekankan pada kolaborasi antara manusia dan mesin berbasis kecerdasan buatan. Dalam konteks ini, lulusan Teknik Informatika memiliki peluang yang sangat luas dan menjanjikan karena keahlian mereka dibutuhkan dalam hampir semua sektor industri. Mahasiswa Teknik Informatika dibekali dengan kemampuan untuk memahami logika pemrograman, membangun sistem cerdas, serta mengelola data dalam skala besar. Keterampilan ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan yang sedang melakukan transformasi digital. Pekerjaan seperti software engineer, data scientist, AI specialist, dan cloud architect menjadi profesi yang banyak dicari saat ini. Tidak hanya di perusahaan teknologi, tetapi juga di sektor kesehatan, pendidikan, pemerintahan, hingga manufaktur. Salah satu keunggulan lulusan Teknik Informatika adalah fleksibilitas karier. Mereka dapat bekerja sebagai pengembang aplikasi mobile, analis sistem, konsultan IT, hingga membangun startup teknologi sendiri. Di era 5.0, peran mereka juga berkembang ke bidang yang lebih humanis seperti pengembangan teknologi ramah pengguna, desain antarmuka berbasis empati, dan sistem cerdas yang membantu kehidupan manusia sehari-hari. Tren teknologi seperti Internet of Things, Big Data, Blockchain, dan Machine Learning semakin memperluas cakupan pekerjaan di bidang ini. Banyak perusahaan membutuhkan ahli yang mampu merancang sistem yang bukan hanya efisien, tetapi juga aman dan berkelanjutan. Hal ini menjadikan lulusan Teknik Informatika sebagai salah satu sumber daya manusia paling berharga dalam ekosistem digital modern. Tidak kalah penting, era Revolusi Industri 5.0 juga membuka peluang besar dalam bidang riset dan pengembangan. Banyak institusi dan pusat penelitian membutuhkan profesional IT untuk menciptakan solusi baru yang inovatif. Mahasiswa yang tertarik pada dunia akademik dapat melanjutkan studi di bidang kecerdasan buatan, robotika, atau keamanan siber untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi masa depan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan, lulusan Teknik Informatika memiliki prospek karier yang cerah dan fleksibel. Mereka tidak hanya menjadi pelaku dalam dunia teknologi, tetapi juga agen perubahan yang berperan penting dalam menciptakan masa depan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Oleh karena itu, memasuki jurusan ini merupakan langkah strategis bagi mereka yang ingin sukses di era digital.

Rekayasa Perangkat Lunak: Langkah Awal Menjadi Pengembang Aplikasi Andal

Bagi kamu calon mahasiswa baru jurusan Informatika, pasti sudah familiar dengan istilah “programming” atau “membuat aplikasi”. Tapi tahukah kamu bahwa membuat perangkat lunak bukan hanya soal menulis kode? Di sinilah peran Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) menjadi penting. RPL adalah bidang yang mempelajari bagaimana merancang, membangun, dan memelihara perangkat lunak secara terstruktur, sistematis, dan efisien. Bayangkan kamu diminta membuat aplikasi seperti marketplace, sistem informasi kampus, atau bahkan game. Tanpa rencana dan proses yang teratur, proyek tersebut bisa jadi gagal di tengah jalan. RPL mengajarkan kamu bagaimana memulai dari nol, mulai dari memahami kebutuhan pengguna, membuat rancangan, hingga mengetes dan merawat aplikasi setelah selesai dibuat. Ini bukan hanya soal “ngoding”, tapi soal bagaimana menyelesaikan masalah nyata dengan teknologi. Di awal perkuliahan, kamu akan dikenalkan dengan konsep siklus hidup perangkat lunak atau Software Development Life Cycle (SDLC). Ini adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui saat membuat perangkat lunak, seperti: analisis kebutuhan, desain, implementasi (coding), pengujian, dan pemeliharaan. Kamu juga akan belajar tentang model pengembangan seperti Waterfall (bertahap), atau Agile (fleksibel dan cepat beradaptasi) yang sering digunakan di dunia industri. Selain itu, kamu akan terbiasa bekerja secara tim, karena dalam dunia nyata, perangkat lunak hampir selalu dibuat oleh tim, bukan sendiri. Kamu akan belajar bagaimana membagi tugas sebagai programmer, analis sistem, penguji (tester), atau bahkan manajer proyek. RPL juga membiasakanmu menggunakan alat bantu profesional seperti GitHub (untuk kolaborasi kode), Trello (untuk manajemen tugas), dan berbagai software pengujian. Ilmu ini sangat penting karena hampir semua industri sekarang membutuhkan perangkat lunak: rumah sakit, sekolah, perusahaan, bahkan pemerintah. Maka, lulusan informatika dengan pemahaman RPL yang kuat punya prospek karier yang luas, seperti menjadi software developer, system analyst, QA engineer, hingga tech lead di perusahaan startup maupun korporasi besar. Jadi, jika kamu tertarik masuk jurusan Informatika, pelajaran Rekayasa Perangkat Lunak akan menjadi salah satu bekal utama dalam perjalananmu membangun aplikasi atau sistem yang bermanfaat untuk masyarakat. Siapkan dirimu untuk belajar tidak hanya coding, tapi juga berpikir logis, bekerja tim, dan membangun solusi nyata lewat perangkat lunak.

Kecerdasan Buatan: Inovasi Digital Menuju Era Otomatisasi Cerdas

Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan cabang ilmu komputer yang berfokus pada pembuatan sistem atau mesin yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. AI memungkinkan komputer untuk belajar dari data, mengenal pola, membuat keputusan, dan bahkan memahami bahasa alami. Dalam beberapa dekade terakhir, AI telah berkembang pesat dan menjadi teknologi kunci dalam berbagai sektor seperti kesehatan, transportasi, keuangan, dan pendidikan. Salah satu konsep inti dalam AI adalah machine learning, yaitu kemampuan sistem untuk belajar dari data dan meningkatkan kinerjanya seiring waktu tanpa perlu diprogram secara eksplisit. Teknik seperti supervised learning, unsupervised learning, dan reinforcement learning banyak digunakan untuk membangun model AI yang dapat memprediksi, mengklasifikasi, dan membuat rekomendasi. Selain itu, bidang seperti deep learning telah memungkinkan pengembangan sistem yang sangat kompleks seperti pengenalan wajah dan suara. Dalam dunia nyata, penerapan AI sangat luas. Di sektor kesehatan, AI digunakan untuk menganalisis citra medis dan membantu diagnosis penyakit secara lebih cepat dan akurat. Di bidang otomotif, mobil otonom menggunakan AI untuk mengenali lingkungan sekitar dan mengambil keputusan secara real time. Asisten virtual seperti Siri, Alexa, dan Google Assistant juga menggunakan AI untuk memahami perintah suara dan merespons sesuai konteks.

Dua Dekade Informatika UMM: Merayakan Perjalanan, Menyatukan Kenangan

Sabtu, 28 Juni 2025 menjadi hari istimewa bagi keluarga besar Prodi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tepat di usia yang ke-20 tahun, Informatika UMM menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dies Natalis yang sangat bermakna. Bertempat di Kampus 3 UMM, kegiatan ini menghadirkan suasana yang hangat, akrab, dan penuh nostalgia. Acara dibuka dengan jalan sehat bersama, yang menjadi simbol perjalanan panjang Prodi Informatika sejak berdiri hingga kini. Mahasiswa, dosen, dan alumni dari berbagai angkatan turut meramaikan kegiatan ini. Lebih dari sekadar aktivitas fisik, jalan sehat menjadi wujud kebersamaan dan semangat kolektif yang terus hidup dalam tubuh Informatika UMM. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan alumni gathering, sebuah momen temu kangen antar generasi. Alumni berbagi kisah tentang masa kuliah, dari pengalaman mengikuti perkuliahan, kegiatan organisasi, hingga kehidupan mereka setelah lulus. Dalam sesi sharing session, para alumni dan dosen membahas berbagai topik seperti perkembangan teknologi, dunia kerja, hingga tantangan dan peluang yang dihadapi lulusan Informatika saat ini. Tak ketinggalan, kegiatan orasi ilmiah juga menjadi bagian penting dari rangkaian Dies Natalis. Orasi ini tidak hanya menjadi sarana refleksi akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan visi ke depan. Para narasumber menekankan pentingnya inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta kesiapan adaptasi dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat. Kegiatan ini juga menyertakan sesi wawancara khusus dengan beberapa alumni. Dari wawancara tersebut terungkap berbagai cerita menarik, seperti hal-hal yang paling dirindukan selama kuliah, mata kuliah favorit, serta dosen yang paling berkesan. Ada pula cerita santai seputar tempat nongkrong legendaris, warung makan favorit, hingga pesan yang ingin mereka sampaikan pada diri mereka sendiri saat masih menjadi mahasiswa. Seluruh rangkaian Dies Natalis ini bukan hanya perayaan simbolis, tetapi menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi, membangun jejaring alumni, serta menghidupkan kembali semangat kolektif untuk tumbuh dan berkembang bersama. Dalam 20 tahun perjalanannya, Prodi Informatika UMM telah menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa dan alumni yang kini tersebar di berbagai bidang industri dan akademik. Melalui momen ini, Prodi Informatika UMM menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, dan siap menjawab tantangan masa depan. Dengan semangat Bersama Tumbuh dan Berkontribusi, Informatika UMM terus melangkah ke depan, menjaga tradisi unggul, dan membangun masa depan yang lebih baik.

Lulus dengan Gemilang, Tiga Mahasiswa Informatika UMM Jadi Wisudawan Terbaik

Tiga mahasiswa dari Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih gelar wisudawan terbaik pada prosesi wisuda ke-118 yang digelar pada 17 dan 19 Juni 2025. Ketiganya menunjukkan prestasi luar biasa baik di bidang akademik maupun non-akademik, menjadi representasi mahasiswa unggul yang siap bersaing di dunia profesional. Wisudawan terbaik pertama diraih oleh Imelda Azaliya Rahma. Selama kuliah, Imelda dikenal sebagai mahasiswa yang disiplin, aktif, dan memiliki semangat tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Dalam pesannya, ia memberikan motivasi kepada rekan-rekan mahasiswa yang sedang berjuang dengan skripsi. “Semangat terus, jangan pernah menyerah, manfaatkan waktu sebaik mungkin buat skripsi. Untuk yang belum mulai, susun strategi buat yang baik, lulus di jalur apa,” ucapnya. Sikap gigihnya menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk tetap fokus pada tujuan. Posisi wisudawan terbaik kedua ditempati oleh Zumro’atul Afifah. Ia merupakan sosok yang tekun dan konsisten selama masa studi. Zumro’atul membagikan pesan sederhana namun penuh makna kepada para mahasiswa tingkat akhir. “Jangan lupa untuk segera dimulai dan tetap semangat dan yakin bahwa apa yang kalian mulai pasti ada hasilnya,” ujarnya. Pesan tersebut menggambarkan pentingnya memulai langkah kecil dan terus melangkah hingga selesai, terutama dalam menyusun skripsi. Sementara itu, Rafli Kharisma Akbar menempati posisi wisudawan terbaik ketiga. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang aktif, kritis, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap teman-temannya. Rafli menyampaikan pandangannya secara jujur mengenai proses penyusunan skripsi. “Skripsi yang baik itu adalah skripsi yang selesai. Gapapa fomo ngerjain skripsi, justru bagus. Gak ada yang namanya ketinggalan, daripada ketinggalan dan gak ada semangat lagi buat ngerjain skripsi, itu malah down mental. Jadi kerjain skripsi sampai tuntas,” jelasnya. Ketiganya tidak hanya unggul dalam hal akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan kampus dan organisasi yang membentuk karakter serta jiwa kepemimpinan. Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama Program Studi Informatika UMM di tingkat universitas. Mereka adalah bukti bahwa kerja keras dan dedikasi mampu menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Pihak program studi pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wisudawan terbaik ini. Diharapkan, prestasi mereka dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa aktif untuk terus berkarya dan menyelesaikan studinya dengan semangat yang sama. Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kontribusi yang lebih besar di tengah masyarakat dan dunia kerja.

Keamanan Siber: Pilar Utama Perlindungan Informasi di Era Digital

Di era digital saat ini, keamanan siber atau cybersecurity telah menjadi salah satu aspek krusial dalam dunia teknologi informasi. Setiap hari, jutaan data berpindah antar sistem, jaringan, dan perangkat melalui internet. Sayangnya, perkembangan ini juga diiringi dengan meningkatnya potensi serangan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti peretas, penyebar malware, hingga pelaku pencurian data. Oleh karena itu, penting bagi setiap organisasi, pemerintah, dan individu untuk memiliki kesadaran dan perlindungan siber yang memadai. Cybersecurity mencakup serangkaian praktik, teknologi, dan proses yang dirancang untuk melindungi sistem komputer, jaringan, perangkat lunak, dan data dari serangan digital. Tujuan utamanya adalah menjaga kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), dan ketersediaan (availability) data atau dikenal sebagai CIA Triad. Tanpa keamanan siber yang baik, sistem informasi rentan terhadap manipulasi, penyadapan, atau bahkan kehancuran total oleh pihak ketiga. Ancaman terhadap keamanan siber sangat beragam dan terus berkembang. Serangan seperti phishing, ransomware, denial-of-service attack (DoS), hingga SQL injection menjadi teknik umum yang digunakan oleh penyerang untuk mengeksploitasi kerentanan sistem. Banyak serangan dilakukan secara otomatis dengan bantuan bot atau skrip yang mampu mencari celah keamanan di berbagai sistem yang terhubung ke internet. Bahkan, perangkat Internet of Things (IoT) pun kini tidak luput dari incaran pelaku kejahatan siber. Penting bagi mahasiswa Informatika untuk memahami prinsip dasar dan praktik keamanan siber. Mata kuliah ini biasanya mencakup materi tentang kriptografi, keamanan jaringan, kontrol akses, serta penggunaan firewall dan sistem deteksi intrusi (IDS). Tidak hanya itu, mahasiswa juga diajak untuk mengenali berbagai jenis serangan siber dan cara mitigasinya, serta memahami pentingnya pembaruan sistem dan kebijakan keamanan yang ketat dalam organisasi. Kesadaran pengguna juga menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan siber. Banyak serangan berhasil bukan karena lemahnya sistem teknologi, melainkan karena kelalaian manusia, seperti menggunakan kata sandi yang mudah ditebak atau mengklik tautan yang mencurigakan. Oleh sebab itu, edukasi kepada pengguna akhir menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi keamanan siber yang efektif. Dengan semakin banyaknya data pribadi, finansial, dan rahasia perusahaan yang disimpan secara digital, keamanan siber tidak lagi menjadi opsi, melainkan kebutuhan. Masa depan teknologi akan sangat ditentukan oleh seberapa baik sistem informasi mampu bertahan dari ancaman yang terus berkembang. Oleh karena itu, keamanan siber menjadi bidang penting yang harus dipahami dan dikuasai oleh setiap lulusan Informatika.

Informasi Finansial di Ujung Jari, tapi Mengapa Gen Z Masih Boros?

Di tengah kemudahan akses informasi keuangan, banyak Gen Z justru memilih untuk “hidup untuk hari ini” menghabiskan uang untuk traveling, konser, atau belanja impulsif sebagai bentuk pelarian dari stres. Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending. Menurut survei Credit Karma, hampir separuh Gen Z merasa menabung itu sia-sia. Akibatnya, keterampilan mengatur keuangan pun jadi minim. Sebagian menyalahkan sistem pendidikan yang tak membekali mereka dengan pengetahuan finansial. Padahal, saat ini semua informasi dari budgeting sampai investasi bisa diakses hanya lewat smartphone. Finfluencer, podcast, bahkan video singkat di TikTok pun siap membantu. Namun, kenyataannya hanya 33% Gen Z yang benar-benar memanfaatkan media sosial untuk belajar finansial. Banyak yang justru terjebak dalam tren viral tanpa memahami konsep dasarnya. Overload informasi apalagi dengan konten AI yang makin sulit disaring juga bikin bingung menentukan mana yang benar. Karena itulah, penting untuk mulai belajar dari dasar, menyusun anggaran, memahami jenis utang, hingga mulai menabung. Meski sekolah belum maksimal mengajarkan hal ini, pembelajaran bisa dimulai dari rumah. Orang tua punya peran besar dalam membentuk kebiasaan finansial anak sejak dini. Sebagai Gen Z, sudah saatnya kita memanfaatkan akses informasi yang ada untuk membangun masa depan finansial yang lebih stabil. Jangan sampai kemudahan teknologi hanya jadi tempat cari hiburan, tapi lupa untuk belajar mengatur uang.

Regulasi AI di Indonesia: Terlambat atau Tepat Waktu?

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari algoritma media sosial, chatbot layanan pelanggan, hingga sistem rekomendasi di e-commerce, AI telah mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan membuat keputusan. Di tengah perkembangan pesat ini, muncul pertanyaan penting: apakah regulasi AI di Indonesia datang terlambat, atau justru muncul pada saat yang tepat? Hingga saat ini, Indonesia masih dalam tahap merancang kerangka hukum yang mengatur penggunaan dan pengembangan AI. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Badan Riset dan Inovasi Nasional mulai menggagas kebijakan untuk memastikan AI digunakan secara etis, transparan, dan bertanggung jawab. Namun, sebagian pihak menilai bahwa langkah ini agak lambat dibandingkan negara-negara lain yang sudah lebih dahulu menetapkan regulasi AI, seperti Uni Eropa atau Singapura. Meski begitu, keterlambatan ini justru bisa menjadi keuntungan. Indonesia dapat belajar dari kesalahan dan praktik terbaik di negara lain, serta merancang regulasi yang lebih sesuai dengan konteks lokal. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia untuk lebih fleksibel dan responsif terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat. Di sisi lain, belum adanya regulasi yang jelas menimbulkan risiko. Tanpa payung hukum yang kuat, penyalahgunaan AI dalam bentuk diskriminasi algoritma, pelanggaran privasi data, atau manipulasi informasi bisa terjadi tanpa mekanisme pengawasan yang memadai. Terlebih, banyak pelaku industri masih mengejar inovasi tanpa memahami dampak sosial dan etika dari teknologi yang mereka bangun. Regulasi AI bukan hanya tentang mengatur, tetapi juga memberikan arah. Regulasi yang baik akan mendorong inovasi yang bertanggung jawab, melindungi hak-hak individu, serta menciptakan iklim kepercayaan antara pengembang, pengguna, dan pemerintah. Dalam hal ini, waktu memang penting, tapi kualitas dan keberanian untuk menegakkan aturan jauh lebih menentukan. Jadi, apakah Indonesia terlambat? Mungkin. Tapi masih ada ruang untuk membuat langkah yang tepat dan berdampak. Yang terpenting adalah memastikan bahwa saat AI berkembang, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi kompas utama dalam setiap kebijakan teknologi yang dibuat.

Pemrograman untuk Anak Sekolah: Kebutuhan atau Tren Saja?

Dalam beberapa tahun terakhir, pemrograman atau coding mulai diajarkan sejak dini di berbagai sekolah, bahkan di tingkat dasar. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah pemrograman untuk anak sekolah benar-benar sebuah kebutuhan, atau hanya sekadar mengikuti tren global? Dunia saat ini sedang bergerak cepat menuju era digital yang didominasi oleh teknologi dan otomatisasi. Dalam kondisi ini, kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, dan memahami struktur teknologi menjadi semakin penting. Di sinilah pemrograman memainkan peran besar. Belajar coding tidak melulu soal menjadi programmer, melainkan membentuk cara berpikir yang sistematis dan kreatif. Berbagai platform seperti Scratch, Blockly, dan Minecraft Education kini tersedia untuk mengenalkan konsep pemrograman dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya belajar mengetik kode, tetapi juga membuat game, animasi, atau aplikasi sederhana yang relevan dengan dunia mereka. Hal ini membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat inovasi sejak dini. Namun, penting juga untuk memahami bahwa tidak semua anak harus menjadi ahli coding. Yang dibutuhkan adalah memperkenalkan dasar-dasarnya agar mereka paham cara kerja teknologi yang mereka gunakan setiap hari. Pendidikan pemrograman yang ideal bukan soal mencetak jutaan programmer, tapi membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Jadi, pemrograman di sekolah bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah kebutuhan nyata dalam menyiapkan anak menghadapi masa depan yang semakin digital. Dengan pendekatan yang tepat, coding bisa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk memahami dan bahkan menciptakan teknologi yang akan membentuk dunia esok.